Freedom Writers, Pendidikan Yang Mendidik



Oleh : R. Kottir
Aktifis Lapar Sulsel

Film Freedom Writers dirilis pada 2007. Diambil dari kisah nyata di sekolah Long Beach Unified School District Amerika Serikat. Kisah ini menggambarkan tentang dunia pendidikan buruk, tak ada perhatian serius guru dalam dalam mendidik murid, murid di sekolah ini terpengaruh dengan kehidupan geng. Murid tersebut dari berbagai latar belakang suku dan warna kulit. Perbedaan itu membuat kelompok sendiri dan tak ingin bergaul diluar dari sukunya. Orang berkulit hitam membenci kulit putih begitu pun sebaliknya, perang antar suku kerap terjadi di sekolah ini.

Erin Gruwell sebagai guru hadir membawa nuansa baru di kelas 203. Erin akrab dengan senyuman, ia melangkah menuju kelas, mengenakan baju merah pekat, dilehernya mutiara putih pemberian ayahnya tak pernah ia lepaskan, Erin melangkah perlahan memasuki ruangan, tak ada satupun murid ditemuinya, ia memandangi meja dihiasi coretan. Bell pertama bunyi, di depan papan tulis ia sudah siap menyambut muridnya, ia tetap tersenyum. Ia merasa bangga berada di ruagan itu. Lalu bell kedua berbunyi, satu per satu murid memasuki ruangan, tak ada senyum satupun dari mereka, mereka duduk dikursinya masing-masing, berdampingan dengan gengnya.

Film yang disutradarai oleh Richard LaGravenese itu menggambarkan bahwa dunia pendidikan gagal membentuk karakter murid, bahwa pendidikan tak sanggup mendidik murid untuk lebih menghargai sesama manusia. Pendidikan tak peduli dengan itu, guru hanya menjalankan aturan tertulis di sekolah. Dengan situasi seperti itu, film yang dibintangi Hilary Swank sebagai Erin tidak patah semangat dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Di wajahnya selalu riang ria.

Proses mengajar Erin tak begitu berjalan mulus, selain muridnya bandel, ia juga mendapat tekanan dari sesamanya  guru disekolah, bahkan tekanan dari suaminya. Erin guru cerdas, ia tetap bertahan di sekolah, ia ingin merubah siswa itu, ia ingin semua muridnya lulus dengan predikat memuaskan.

Film berdurasi 2 jam 2 menit 57 detik tersebut menggambarkan keberhasilan Erin Gruwell. Erin mengajar dengan cara berbeda dari guru lainnya. Erin awalnya dibenci oleh murid karena berkulit putih namun dengan metode belajarnya disukai, maka situasi berubah.

Kisah dalam film FW menarik dijadikan contoh, menjadi seorang guru tak harus menaati system sekolah namun systemlah yang harus tunduk pada konteks murid. Cara Erin tersebut dapat kita pakai dalam proses belajar mengajar di sekolah manapu di Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tirani Pendidikan